Rabu, 24 Mei 2017

HIMAPESA Ucapkan selamat kepada calon BEM Universitas Madura Terpilih

Ketua Umum HIMAPESA yang juga mantan Presma UNIRA serta Eks Pengurus HMI Cabang Pamekasan Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) periode 2014-2015

Pamekasan (BPLNews) - Sejumlah pengurus yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Sampang (HIMAPESA) menyampaikan ucapan selamat kepada BEM Universitas Madura terpilih.(24/05/2017)

Acara pesta demokrasi ditingkat kampus itu menobatkan paslon (pasangan calon) Nomor Urut 1. M. Ayus Robby SH dan Feri Fadilla sebagai nahkoda baru BEM Universitas Madura periode 2017-2018.

Ucapan selamat datang dari berbagai kalangan termasuk ketua umum HIMAPESA Samsul Arifin "selamat dan sukses kepada adinda ayus dan feri atas terpilihnya sebagai Presiden dan Wakil presiden Mahasiswa UNIRA. terangnya

"Mampu merealisasikan program yang sesuai dengan visi dan misi serta mendapatkan Ridho Allah SWT disetiap perjungannya, ujar samsul yang juga mantan presiden mahasiswa UNIRA itu" .

"Semoga BEM Universitas Madura yang dinahkodai ayus dan Feri yang merupakan kader HMI Cabang Pamekasan bisa menjadi pelayan serta profesional bagi mahasiswa.ibuhnya.

sementara itu ayus ketika dihubungi via telepon mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan kawan-kawan mahasiswa, para senior, teman-teman terutama teman-teman yang dari sampang. tambahnya.



Selasa, 23 Mei 2017

Pemilihan BEM Universitas Madura (UNIRA), Berjalan sesuai Harapan

Doc. bplhminews.com
Pamekasan (BPLNews) -  Universitas Madura menggelar pemiluraya mahasiswa (Pemilwa) pada tanggal 22 Mei 2017, di Area kampus jalan panglegur Pamekasan.

Kontestasi politik di tingkat kampus yang berdiri pada tahun 1978 itu dilaksankan selama 2 hari, hari pertama pemungutan surat suara dan hari kedua penghitungan surat suara.

Pasangan calon nomor urut 1. M. Ayus Robby SH dan Feri Fadilla mengungguli pasangan nomor urut 2.Robianto Hadi dan Subahri

Ucapan terima kasih disampaikan langsung oleh ayus (Nama panggilan) kepada para tim sukses, simpatisan dan semua kalangan yang telah berpartisipasi membantu untuk mensukseskannya, "terima kasih", imbuhnya.

"Harapan kedepan kawan-kawan mahasiswa bisa bersinergi dengan pihak BEM-U dalam setiap aktivitas guna menunjang pelayanan nyaman aman dan profesonal, terangnya".

Menurut Kabid PPD HMI Cabang Pamekasan (Adi) kemenangan no. urut 1. merupakan kemenangan bersama, bukan kemenangan kelompok, golongan maupun komunitas, karena sejatinya kemenangan itu milik pemimpin yang mampu mewujudkan kebutuhan warga mahasiswa mulai dari akademik sampai tata pengelolalaan yang profesional, tegasnya.

Selamat kepada adinda ayus robby SH dan Feri Fadilla semoga mampu merealisaskan visi-misi, serat menjadikan kampus UNIRA menjadi lebih maju. amin.

Kami ucapkan terima kasih banyak kepada semua warga mahasiswwa Universtas Madura yang sudah berpartisipasi aktif dalam mensukseskan kontestasi Politik tahunan itu. terang adi.

 

  

  

Selasa, 25 April 2017

Kanda Baidowi Himbau Kader HMI, Jaga Indenpendensi Berdemokrasi

Suasana forum Latihan Kader 2 Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pamekasan


Pamekasan (BPLNews) - hari ke tiga pelaksanaan Latihan Kader 2 (Intermediate Training) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan yang digelar di Hotel Garuda Pamekasan,berjalan kondusif dan seseuai harapan. (24/04/2017).

Pelatihan formal HMI yang dilaksankan di kawasan alun-alun kota Pamekasan itu mengangkat tema " Menilik " the lanscap of the young movement " dalam mengawal demokrasi di indonesia. dengan pemateri kanda Baidowi Sos.

sekretaris pantia pelaksana (Ahmad Hokim) menuturkan bahwa kegiatan ini telah berjalan selama tiga hari alhamdulilah berjalan sesuai harapan  , pemateri yang hadir diantaranya kanda Ketum Badko HMI Jatim (kanda Darmawan putratama), kanda Ubaidillah, Ketum PB HMI (Mulyadi P Tamsir). tambahnya

"Besok tanggal 26 April dijadwalkan hadir Ir. Akbar tandjung di dampingi kanda ridwan hisyam serta jajaran KAHMI Provensi Jawa timur" . jelasnya kepada awak media.

Sementara itu pematri menghimbau kepada para peserta untuk menjaga independisi berdemokasi dalam setiap pelaksanaan pemilihan calon pemimpin mulai dari tingkat desa sampai pilpres.

" sehingga pemimpin yang diamanahi untuk memimpin mampu mengembangkan potensi menuju kesejahteraan masyaratat adil makmur,  tidak terseret arus dinamika politik pragmatis ". tambahnya

Pemateri yang akrab dengan panggilan Ca' Awiek itu juga menjelaskan tentang bahaya money politik serta  cost politic yang sangat tinggi dalam berdemokrasi.

" Cost politik serta money politik yang tinggi akan mempengaruhi pemimpin terpilih dalam menetapkan kebijakan dan mempertimbangkan setiap keputusan " jelaasnya

oleh karena itu 2 faktor ini harus dihindari dalam berdemokasi sehingga menciptakan pola demokrasi yang sehat, demokrasi yang sehat juga ditopang oleh pelaksanaan demokasi yang sehat pula.tambahnya.     

  

   

Senin, 27 Maret 2017

POSISI, PERAN, DAN PERMASALAHAN HMI KEKINIAN (MEMANTABKAN ARAH GERAK ORGANISASI)

Moh. khorofi

HMI merupakan sebuah organisasi kemahasiswaan yang berdiri dua tahun pasca kemerdekaan Negara Republik Indonesia. HMI sejak awal kemunculannya telah menunjukkan peran yang sangat besar dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman sehingga pada era awal kemunculannya HMI telah menjadi wakil dari seluruh masyarakat islam dikalangan mahasiswa yang berjuang sekuat tenaga memperjuangkan kepentingan-kepentingan bangsa dan agama dalam menghadapi ancaman-ancaman yang diluncurkan oleh para kolonialis untuk menguasai bumi pertiwi.

Kiprah HMI yang sedemikian besar dalam ikut serta membangun dan mengembangkan kualitas bangsa telah mengantarkan HMI pada masa keemasannya dan menjadikan HMI sebagai salah satu organisasi mahasiswa islam yang diperhitungkan dunia, sehingga tidak heran jika pada era keemasan tersebut tidak sedikit kader-kader HMI yang berkiprah dalam dunia kepemerintahan Indonesia dan mendomisasi berbagai macam posisi strategis sosial kemasyarakatan. Tentunya hal tersebut tidak terlepas dari tingginya kulatas dan kapabilitas setiap kader HMI pada saat itu.

HMI yang berstatus sebagai organisasi mahasiswa (AD HMI Pasal 7) telah menunjukkan perannya yang besar dalam memngembangkan kualitas bangsa  dibuktikan dengan termaktubnya tujuan HMI pada (AD HMI Pasal 4) yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT, dan semua itu terkafer dalam bingkai perkaderan HMI dan sekaligus menjadi fungsi organisasi HMI (AD HMI Pasal 8). Posisi HMI yang urgen dalam pembangunan bangsa tersebut telah  menunjukkan begitu pentingnya peran HMI dalam sosial kemasyarakatan.

Peran HMI dalalm sosial kemasyarakatan adalah sebagai organisasi perjuangan (AD HMI Pasal 9), perjuangan yang dimaksud adalah sebuah kegigihan setiap kader HMI dalam memperjuangkan misi keummatan dan kebangsaan, dan tidak terlepas dari penanaman nilai-nilai Ilahiyah dan Insaniyah yang dalam hal ini terkafer dalam Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Sehingga setiap usaha yang dilakukan oleh setiap kader HMI dalam mengupayakan misi keumatan dan kebangsaan pada akhirnya mengantarkannya pada hakikat penciptaannya sebagai manusia yaitu sebagai Khalifan di bumi.

Pada era Globalisasi ini, peran HMI yang besar dalam sejarah sebagai mana dijelaskan sebelumnya seakan telah dirindukan kembali oleh bumi pertiwi yang sekaligun menjadi saksi bisu perjuangan HMI. kenapa demikian? Karena peran HMI dalam memperjuangkan misi keumatan dan kebangsaan dewasa ini telah tertutupi oleh berbagai kemerosotan dalam tubuh HMI itu sendiri. Dalam hal ini penulis mengklasifikasikan kemerosotan dalam tubuh HMI menjadi dua, yaitu internal dan eksternal.

Pertama, kemerosotan internal HMI ditandai dengan telah terjadinya degradasi perkaderan dalam tubuh HMI, artinya pada era globalisasi ini orientasi perkaderan dalam setia kader HMI telah terfokuskan ke ranah politik pragmatis yang pada akhirnya berafiliasi pada kepentingan pribadi seorang anggota, dan hal tersebut bertentangan dengan Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. padahal dalam HMI ada empat macam orientasi perkaderan pertama, perkaderan akademis, kedua perkaderan politis, ketiga perkaderan interpreneur, dan keempat perkaderan profesional, dan kesemuan orientasi ini mengarahkan setiap kader HMI pada terbentuknya sebuah paradigma berpikir kader yang mandiri dan kreatif.

Kedua, kemerosotan ektsternal HMI, ditandai dengan semakin kuatnya pengaruh negatif dalam lingkungan sosial kemasyarakatan yaitu pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, dan politik dan diperparah lagi dengan banyaknya media-media massa yang secara politis berpihak terhadap kepentingan-kepentingan penguasa. Hal tersebut mengakibatkan bergesernya paradigma berpikir masyarakat khusunya mahasiswa tentang orientasi sebuah kesuksesan dalam hidup, sehingga yang terjadi adalah kuatnya sikap apatis dan hedonis dalam masyarakat. dan tidak jarang ketika ada sebuah aksi yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, banyak masyarakat khususnya mahasiswa non-organisasi yang mengatakan “buat apa panas-panas, mending tidur”, dan itulah yang menjadi PR bersama setiap kader HMI.

Permasalahan-permasalahan internal dan ekternal HMI dewasa ini begitu komplit sehingga perlun diadakan penguatan dasar organisasi, dalam hal ini yang dimaksud dengan dasar organisasi adalah kader.  Penguatan kualitas ke-HMI-an setiap kader penting dilakukan karena berkaca pada sejarah keemasan HMI, masa keemasan HMI tidaklah dicapai melalui hal-hal yang bersifat materil, tapi masa itu dicapai karena tingginya kualitas dan kapabilitas seorang kader HMI. Penguatan-penguatan tersebut bisa diperkuat juga dengan adanya pemaksimalan lembaga-lembaga khusus HMI seperti BPL, LAPMI, LKMI, dan sebagainya dalam mendukung upaya-upaya HMI memperkuat kualitas kader HMI. dan disamping adanya kenguatan kualitas kader, HMI juga harus kembali pada khittah perjuangannya dalam memperjuangkan misi keummatan dan kebangsaan
Pamekasan, 27 maret 2017
Penulis


MOH KHOROFIWabendum Badan Pengelola Latihan ( BPL)  HMI Cabang Pamekasan

Jumat, 17 Maret 2017

KEPEMIMPINAN DAN INDEPENDENSI HMI DALAM MEMBANGUN KUALITAS KADER



Mahasiswa Pascasarjana STAIN Pamekasan  konsentrasi program studi Pendidikan Agama Islam sekaligus menjabat sebagai kabid kewirausahaan kekaryaan dan pengembangan  profesi (KPP) HMI Cabang Pamekasan.  doc. bpl


Mahasiswa adalah sekelompok orang yang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi atau yang sederajat, kompetensi seorang mahasiswa secara institusi adalah ketika mereka telah kaya akan ilmu pengetahuan, kaya akan wawasan kemasyarakatan, dan berperan aktif dalam setiap upaya membangun dan mengembangkan kualitas dari taraf hidup masyarakat yang berada di lingkungannya.
Peran serta mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan kualitas taraf hidup masyarakat tidak terlepas dari adanya motivasi-motivasi akademis yang tidak hanya mereka dapatkan dalam forum perkuliahan saja, tapi juga motivasi-motivasi akademis yang mereka dapatkan dalam organisasi-organisasi ekstra kampus yang notabene dalam perkembangannya selalu mencetak mahasiswa-mahasiswa yang peka terhadap berbagai persoalan kemasyarakat yang bersifat multi-dimensi, baik dalam ruang lingkup akademik, budaya, sosial-politik, maupun dalam ruang ekonomi-politik. Setiap mahasiswa yang kompeten dalam dalam mengamalkan keilmuannya dalam hidup bermasyarakat akan menjadikan organisasi tempatnya berproses menjadi besar, dan setiap organisasi-organisasi besar pastilah ditopang oleh anggota-anggota yang berkualitas.
Himpunan mahasiswa islam (HMI) adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang lahir pada tangga 14 Rabi’ul Awal 1433 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 M tepat dua tahun setelah diproklamirkannya kemerdekaan bangsa indonesia dalam wadah Negara Republik Indonesia. HMI dalam sejarah perkembangannya telah menjadi kekuatan pertama umat islam dikalangan mahasiswa dalam memperjuangkan perjuangan umat dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan bangsa yang bersifat multi-dimensi. Untuk menjaga kesucian  dari setiap perjuangan yang dilakukannya, ditetapkanlah sebuah sifat organisasi yang independen yang termaktub dalam pasal 6 Anggaran Dasar  (AD) HMI, sifat independensi HMI tersebut telah menegaskan akan perjuangan-perjuangan HMI yang tidak berafiliasi terhadap seseorang maupu kelompok-kelompok lain yang memiliki kepentingan yang tidak relevan dengan Hittah perjuangan HMI.
Dalam setiap era perkembangannya, HMI telah melalui berbagai dinamika internal maupun eksternal yang dengan seiizin Allah SWT dapat dihadapi dengan baik dan telah memupuk kedewasaan HMI secara institusi dalam melakukan regenerasi kader dan melanjutkan perjuangannya dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan bangsa. Tentunya hal tersebut tetaplah tidak terlepas dari sifat independen HMI yang selalu dipegang teguh dalam setiap perjuangannya.
Dewasa ini, permasalahan-permasalahan keorganisasian yang dihadapi oleh HMI terkadang tidak terlepas dari adanya orang-orang yang mendominasi HMI dalam setiap gerakannya menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Orang-orang tersebut bisa berasal dari oknum internal HMI sendiri atau bahkan berasal dari eksternal HMI. Tidak jarang hal tersebut juga berdampak pada proses kaderisasi yang dibenturkan terhadap berbagai kepentingan politik internal yang pada akhirnya berorientasi pada kepentingan politik pihak-pihak eksternal yang puncaknya terjadi pada prosesi pemilihan ketua-ketua baru yang akan mengelola HMI. dalam hal ini bisa dikatakan secara tegas dibeberapa cabang HMI yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten kota seluruh Indonesia terkadang ada sebuah proses Oligarki dalam pemilihan ketua yang baru. dan ketika hal tersebut terjadi dalam tubuh HMI maka gerakan-gerakan HMI yang pada awalnya untuk memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa akan berafiliasi pada beberapa kepentingan pihak-pihak yang memiliki kepentingan sosial-politik maupun ekonomi-politik. Seperti ketika ada sebuah kebijakan pemerintah yang tidak tidak menguntungkan terhadap seuatu golongan, disanalah golongan tersebut menggunakan kekuatan massa hmi untuk mengubah kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan tersebut.
Berbagai permasalahan tersebut haruslah segera diselesaikan oleh internal HMI sendiri, karena jika hal tersebut dibiarkan, maka akan berdampak pada pencideraan terhadap nilai independensi HMI sendiri, dan dampak centralnya terhadap perkaderan yang ada dalam tubuh HMI akan terjadi pergeseran paradigma berpikir dan orientasi berorganisasi seorang kader dalam setiap gerakan yang seharusnya bertujuan untuk melaksanakan misi keumatan dan kebangsaan. Pergeseran-pergeseran tersebut juga dapat memberikan citra buruk terhadap HMI sebagai yang pada awalnya sebagai organisasi mahasiswa yang independen menjadi organisasi mahasiswa yang pragmatis.
Penyelesasian masalah-masalah tersebut tentunya harus dimulai dari penegasan HMI sebagai organisasi yang independen baik secara institusi maupun dalam penerapannya, dan HMI tidak boleh seperti piramida segi tiga terbalik yang sewaktu-waktu dapat roboh dan tidak dapat berdiri kokoh menghadap ke atas karena tidak memiliki dasar dan pondasi yang kokoh untuk menopang beban yang diembannya. HMI harus seperti piramida segi tiga yang kokoh menghadap keatas dengan pondasi yang kuat dan dapat menopang beban di atasnya, hal tersebut dapat diwujudkan dengan adanya penguatan nilai-nilai ke-HMI-an dalam setiap jiwa kader HMI karena seorang kader dapat dikatakan sebagai pondasi atau dasar dari organisasi HMI itu sendiri.

Guna Tingkatkan Kinerja, HMI Cab. Pamekasan Terbitkan SK Kepanitian LK II

Susana rapat kepanitian Intermediate Training (LK II) HMI Cab. Pamekasan. doc. bpl


Pamekasan (BPLNews) - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cab. Pamekasan mengeluarkan surat keputusan (SK) susunan Kepanitian Intermediate Training (LK II) HMI Cab. Pamekasan guna tingkatkan kinerja kepanitian serta formalitas pelaksanaan training.

Acara yang akan digelar mulai tanggal 19 bulan april itu memutuskan susunan kepanitian melalui surat nomer 01/sek/04/1438 tentang susunan kepanitian Intermediate Training (LK II) HMI Cab. Pamekasan

Berikut susunan panitia Intermediate Training (LK II) HMI Cab. Pamekasan : Pelindung Allah Azza Wa Jalla, Penanggung Jawab Ketua Umum HMI Cab. Pamekasan (Khoirul Umam), Master Of Training (MOT) Bakornas BPL PB HMI, Korwil BPL BADKO Jatim, BPL HMI Cab. Pamekasan, Steering Commite (Moh. Jauhari, Abrori, Holwani, Adi purwanto).

Ketua panitia (Abd Malik), Sekretaris (Akhmad Hokim), Bendahara (Nurul Mukarromah), Kesekretariatan (Moh. Holid efendi, Amirul mukmini, Moh. Sahid, Ahmad Ghazali), Protokoler (Moh. Khorofi, Agus firdaus, Nur faizah, Haliatus sakdiyah), Konsumsi (Sofiyah, Siti Khodijah j, Ummil mardiyah, Fatimatun nikmah, Anik wahidah), Perlengkapan(Moh. Zaini arif, Moh. usman, Bakrin), Pendanaan (Ach. Ashimuddin, Moh. Badri, Akh. Ahsanul muarif, Fauzi lianto), Pubdekdok (Ach. Imam khotib, Abdurrahman, Agus putratama .A, Ubaidillah ahmad .M).

Menurut ketua panitia (Maliq) hal ini sebagai bukti legalitas formal pelaksanaan Intermediate Training (LK II) HMI Cab. Pamekasan, sekaligus sebagai motivasi bagi kawan-kawan panita. tambahnya.

Chairul umam (Ketum) juga menuturkan, SK kepanitaan dibuat sesuai prosedural adkes HMI dan melalui prosedural hasil rapat di internal HMI Cab. Pamekasan serta pertimbangan-pertimbangan sesuai kapasitas dan kapabilitas kawan-kawan, tambanya.

"Harapannya pelaksanaan Intermediate Training (LK II) HMI Cab. Pamekasan tahun 2017 berjalan sesuai harapan serta melahirkan kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu mengelola organisasi secara profesional serta berjuang untuk meneruskan dan mengemban visi-misi organisasi", tegasnya.(BPL HMI Pamekasan)

Menakar Kembali Tujuan Hmi Cabang Pamekasan

oleh Kabid KPP Komisariat STAIN Periode 2016-2017


Saya mengenal organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak secara langsung. Saya tidak pernah membaca sejarah, kiprah dan pola pergerakan organisasi ini secara pribadi. Yang saya lakukan adalah menyimak dari setiap percakapan teman-teman tentang organisasi ini sebelum saya memilihnya menjadi tempat berorganisasi saya yang pada akhirnya saya menaruh fokus pikiran, ucapan dan tindakan dengan membawanya dalam setiap capaian kebanggaan. Jauh sebelum saya sah menjadi bagian dari HMI, saya melihat organisasi ini sebagai sekumpulan mahasiswa yang tidak terlalu banyak ngomong, sekali ngomong biasanya membuat para pendengarnya berpikir panjang. Nitu yang saya tau sebelum saya menegenalnya sampai kedalam.

HMI menawarkan diri sebagai sebuah organisasi mahasiswa yang mengedaepankan sisi akademisi. Hal ini sesuai dengan kalimat pertama tujuan organisasi ini: terbinanya insan akademis. Jadi bisa saja mahasiswa yang masuk dalam organisasi ini sudah memiliki nnilai-nilai akademis atau bisa juga masih nol dan bisa mengembangkan diri serta dibina –dengan baiik- di dalamnya. Kita semua sepakat tentang nilai-nilai akademis yang salah satu yang sering kita pahami adalah dasar yang jelas dan kuat dari setiap apa yang kita ucap, pikir serta lakukan. Tentunya nilai-nilai tersebut ilmiah.

HMI memperkenalkan dirinya, pertama kali dengan menawarkan kader-kader yang berkualitas baik lokal, nasional hingga internasional. Kader terbaiknya sudah masuk dalam segala jenis profesi mulai dari pengusaha, budayawan, praktisi pendidikan hingga pejabat pemerinntahan. Tanpa menawarkan diri secara lisan HMI sudah sangat dikenal melalui karya-karya kepenulisan. Itu perkenalan awal saya dengan HMI. Hal yang menunjukkan bahwa HMI tidak main-main dalam mencapai tujuan di kalimat pertama tersebut adalah sebelum kita menjadi anggota tetap HMI atau anggota biasa, lazimnya HMI mengadakan masa perkenalan calon anggota (MAPERCA) dengan kemasan kegiatan akademis baik berupa seminar atau yang lainnya. Setelah itu mereka yang sudah ikut MAPERCA berstatus menajdi anggoota muda yang berumur maksimal 6 bulan. Dilanjut dengan screening untuk memilih siapa saja yang pantas masuk menjadi anggota dengan titik poin penyaringan di wawasan keIslaman, kebangsaan dan keumatan. Sekali lagi saya tambah yakin bahwa organisasi ini tidak main-main dalam hal nilai-nilai akademis. Puncaknya dari proses untuk menjadi bagian dari organisasi ini adalah tempaan formal akhir yaitu LK I atau Basic Training, disana kita dipaksa untuk menggunakan tenaga, hati dan otak kita lebih dari biasanya sehingga orientasi praktis dari acara  formal ini adalah mencetak akder yang memiliki jiwa pemimpin dan ketajaman analisi yang kritis, seingga mereka akan menajadi harapan atas pertanyaan yang akan timbuk di lingkungan sosial. Hal ini selaras dengan AD HMI BAB IV tentang fungsi dan peran HMI yakni berfungsi sebagai organisasi kader yang harapan kadernya termaktub dalam lima kualitas Insan Cita dan berperan sebagai organisasi perjuangan yang manifesto perjuangannya tidak keluar titah Al-Quran yakni berjuang membela dan mengangkat martabat kalangan mustadafiin.

Setelah kita melewati perjalanan akademis yang sangat panjang tersebut barulah kita akan resmi menjadi aktivis HMI. Aktivis–yang diharap- memiliki kualitas Insan Cita yang mengabdi terhadap kepentingan mustadafiin.

Di HMI (dalam hal ini adalah HMI di kabupaten Pamekasan) saya mengenal dan menemukan beragam cara berpikir. Semacam saya memasauki sebuah hutan yang memiliki begitu banyak fariasi pepohonan yang itu menambah keindahan dari utan tersebut sehingga begitu banyak tawaran kenyamanan berteduh bagi siapa saja yang memilihnya. Di sini saya diajak meneylami setiap bab keilmuan dan keputusan tindakan. Mulai dari filsafat, sosial, agama, budaya, politik dan sebagainya. Namun yang paling saya kagumi dari HMI ini ialah independesi yang terus menerus diwariskan melalui lisan dan –mungkin- tindakan yang –seharusnya- tetap terjaga hingga sekarang (sekali lagi konteks statemen ini adalah kabupaten Pamekasan dimana penulis sendiri menjadi keluarga dari HMI). Didalam buku panduan perkaderan HMI-pun independensi menjadi materi yang sangat penting dan ditekankan untuk dipahami.  Bahwa sebagai manusia muda yang menjadi harapan masa depa kita diharuskan untuk tidak tunduk kepada apapun dan siapapun kecuali kepentingan kebenaran dan objektivitas demi kebagaiaan masyarakat hari ini danmasa depan. Terhadap siapapun tak terkecuali senior sendiri.  Namun saya sudah meragukan hal itu pada sekarang ini.

 Dari setipa tawaran spesialisasi yang ditawarkan di HMI tampaknya yang paling mendapat perhatian dari kawan-kawan seperjuangan ataupun senior bahkan anggota baru adalah spesialisasi dalam bidang politik. Saya rasa hal itu maklum kita alami, karena memang mayoritas tema kajian, seminar dan yang lainnya berorientasi kepada praktek dan nilai politis. Mayoritas kawan-kawan saya dalam berpikir, berucap dan bertindak memiliki nuansa politis. Orientasi tersebut tidaklah disengaja, namun kita sadari kenyataannya. Saya sependapat dengan Presidium KAHMI nasional, Prof. Mafud Md. Yang ketika menyampaikan orasi ilmiahnya di pendopo Pamkesan tempo lalu mengatakan bahwa berpolitik itu wajib dengan landasan kaidah ushul yang berbunyi “maalaa yutimmu al waajibu illa bihi fahuwa wajibun” namun harus kita pahami konteks dan kapasitas beliau sebagai negarawan yang memang harus berucap demikian. Masalahnya pembelajaran politik dilingkungan HMI sendiri sudah sangat terlalu masuk sehingga tanpa kita sadari kita sudah kebablasan berpolitik. Dampaknya adalah politisasi internal. Politisasi yang menghambat bahkan membunuh daya cipta kreatif yang kader harusnya dikembangkan secara maksimal. Pembelajaran berpolitik sudah tidak lagi dipahami sebagai upaya pendidikan berpolitik melainkan sudah bergeser pada keharus mempraktekkan politik meskipun lahan yang digunakan sama sekali tidak benar yakni kader dan proses perkaderan. Ketika poltik sudah sangat masuk dalam diri internal organisasi yang itu sudah pasti melibatkan pihak luar atau institusi lain, maka independensi yang kita yakini hanya sebuah ilusi. Kita paham betul HMI adalaha organnisasi mahasiswa yang besar. Pengarunya terhadap pemerintahan sudah tidak lagi dipertanyakan dan sudah pasti dalam lingkup Pamekasan. Pertanyaaan nakal saya dalam konteks ini adalah apakah pembelajaran dan tafsir independensi HMI masih layak kita puji?

Di HMI saya sudah 3 tahunan. Saya berada dibawah naungan komisariat STAIN Pamekasan. Setiap kali perekrutan anggota mulai dari angkatan saya tiha tahun lalu yang saya tahu peminat HMI tidak pernah kurang dari 80 anggota. Hal itu membuat pengurus kewalahan memfasilitasi anggota. Baik pelayanan dan pengayoman akademis, psikis (konsultasi permasalah personal kejuruan, problem solving minat dan dan bakat dsb.), administratif dan sebaginya. Di STAIN Pamekasan terdapat 3 fakultas yang tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah karena memang pimpinan kampus menarget peralihan status dari Sekolah Tinggi ke Institut. Dari 3 fakultas tersebut  memiliki 18 jurusan sehingga secara otomatis berdampak pada peningkatan kuantitas annggota HMI. LK I yang terakhir kami laksankan kemaren saja berhasi menjaring 100 orang anggota dan itupun kita harus menstop pendaftar di angka 100 karena pertimbangan efektifitas, efisensi penyammpaian matteri dan kualtas jebolannya. Kita harus menggugurkan kurang lebih 60-an calon anggota karena pertimbangan tersebut. Resikonya adalah kita memupuskan harapan 60 calon pemimpin bangsa dimasa depan yang tidak menutup kemungkinan didalamnya terdapat manusia yang memiliki kualitas melebihi kita semua.

Atas dasar  tersebut diatas HMI Komisariat STAIN Pamekasan mengajukan pemekaran komisariat yang telah dilakukan sejak 5 kepengurusan terdahulu atau bisa dikatakan usaha yang telah dilakukan 5 tahun silam. Namun pemekaran yang diharapkan harus terkubur dala-dalam. Hal ini terjadii karena pemahaman pembelajran politik telah menjadi pemahaman praktek politik. Dengan gambaran yang telah saya paparkan singkat diatas, bisa dibayangkan selama lima kepengurusan telah berapa potensi yang harus dikorbankan. Pertanyaan yang menarik adalah dengen potensi yang sangat besar tersebut kenapa pemekaran yang sifatnya menunjang dan membantu kemajuan organisasi atau bahakan negeri harus terkubur dalam-dalam sejak lima tahun silam? Jawabannya simpel. Pemeblejaran dan aktivitas politik yang terlalu masuk dalam internal organisasilah yang membunh semuanya, sehingga perkaderanpun harus dipolitisasi. Perubahan pemahaman tersebut mengharuskan penyediaan lapangan untuk mempraktekkan sehingga perkaderan yang harus dikorbankan sebagai target. Tentunya kita semua tahu bagaimana atmospher yang terjadi dalam praktek demookrasi keluarga himpunan dalam hal ini setingkat KONVERCAB. Itu menajdi kenyataan yang harus kita akui dengan hati besar sebagai satu-satunya alasan pemekaran yang menunjang kualitas kader dan organisasi harus dipolitisasi. Dan sayangnya politsasi ini –terindkasi- melibatkan pihak luar organisasi (dalam arti kepengurusan. Kita disini masih belum dewasa berpolitik sehingga harus mempertaruhkan kader dan perkaderan.

Dari lima tahun pengajuan pemekaran dengan kelayakan yang sudah tidak duragkan, pantia khusu atau Pansus baru saja sah terbentuk bulan Februari kemarin. Tentu itu menjadi semacam angn segar bagi harapan pemekaran yang kami ajukan. Namun surat hasil rapat pansus yang telah dikeluarkan laggi-lagi harus mengubur lebih dalam harapan lima tahun silam. Pasalnya surat tersebut berbunyi demikan:

1.       Surat pengajuan pemekaran komisariat kepada pengurus HMI Cabang Pamekasan.

2.       Menyetorkan Database anggota biasa komisariat STAIN Pamekasan yang dilkengkapi dengan FC sertifkan LK Idengan persentase 60% dari jumlah anggota biasa.

3.       Pernyataan sikap tertulis dari masing-masing anggota biasa bahwa sepakat untuk melakukan pemekaran.

4.       Dukungan tertulis dan bermatrai pemekaran komisariat STAIN Pamekasan dari KAHMI STAIN minimal 30 orang guna menunjang aktivitas komisariat hasil pemekaran.

5.       Keaktifan program kerja komisariat (kajan intensif) yang diihadiri oleh minila 60 anggota biasa (30 tarbuyah dan 30 syarah) dalam jangka waktu 3 bulan terhitung  dari keluarnya surat ini.

Dengan membandingkan dengan konstitusi yang ada di HMI siapa yang menolak bahwa surat hasil rapat pansus ini adalah bentuk politisasi yang hendak akan memperpanjang upaya pemekara yang telah diupayakan 5 tahun silam. Mulai dari point 3-5 menunjukkan kekonyolan penghadangan peningkatan kualitas melalui pemekaran kualitas.

Yang lebih disayangkan lag berkas yang diajukan berupa serifikan asli LK 1 yang disetorkan 2 tahun silam harus hlang tak tertemukan dan salah satu dari sertifikat tersebut adalah sertifikat penulisa sendiri. Pertanyaannya adalah organisasi sebesar HMI yang juga membanggakan tertib administrasi harus mengalami kecelakaan demikian, bagaimanakah bentuk konkrit dari inventaris yang ada di dalam HMI (cabang Pamekasan)? Pertanyaan selanjutnya bagaimanakah bentuk koordinasi antara pengurus demisioner dan defnitnya, apakah ini merupaka bentuk lain dari politisasi ini? Sungguh pembelajaran yang rumit dan harus dipahami dengan sangat rummit.

Yang sering saya dengar dari kejanggalan keputusan dan kebijakan yang serng diambil adalah dalih local wisdom, namun sejauh yang saya pahami local wisdom  adalah sebuah sarana yang mengakomodasi keadaan dan kejadian yang tidak terakomodir di konstitusi HMI, uniknya sering saya saksikan local wisdom yang ada membentur bahkan menafkan konstitusi yang ada. Lagi-lagi dengan berat hati itu kepentingan politisasi. Bisa direka sendiri bagaimana upaya “molorosasi” yang terselubung dari 5 point surat hasil pansus tersebut. Sebenarnya politisasi yang ada disini juga –sepertinya- dirasa oleh komisariat STAINATA yang ada di kabupaten Sampang yang berada dibawah naungan HMI cabang Pamekasan.

Kesemua ini merupakan akibat dari yang tersebut diatas bahwa pembelajaran politik –dan pengaruh yang bukan hanya internal- sudah tidak lagi dipahami sebagai sebuah pemebelajaran tetapi sebuah praktek yang tidak harus melihat tempat atau lahan atau mungkin memang sudah tidak punya lahan lain. Jika sudah demikian jangan lagi berharap, mengajarkan dan membanggakan independensi kalau kader saja harus dipolitisasi. Sehingga tujuan HMI pada kalimat pertama yang berbunyi terbinanya insan akademis secara praktek sudah sangat jauh terdegradasi menjadi terbinanya insan politis. Jika sudah organisasi sebesar dan seberpengaruh HMI sudah demikian di semua cabang, maka sudah seharusnya negeri ini berharap pemmpin yang berkualitas dimasa yang akan datang. SEKIAN